Rabu, 25 Agustus 2021

"Salah Kaprah" Tentang Vaksinasi, Hingga Ogah Divaksin Covid-19

 



Salah persepsi tentang vaksinasi atau dikalangan emak-emak lebih dikenal dengan imunisasi, akhirnya terseret-seret dalam  penyelenggaraan vaksinasi massal Covid-19; "Banyak orang berpikir, dulu ketika masih balita pernah mendapatkan imunisasi lengkap; hepatitis, polio, BCG, campak, DPT, HP-HIB, dsb. Itu dianggap sudak cukup. Berpikirnya dengan analogi  asuransi all risk yang ditawarkan sebagai jaminan perlindungan kendaraan terhadap semua resiko kerugian, tetapi nyatanya tidak seluruh resiko  kecelakaan dicover penuh oleh asuransi. Demikian halnya vaksin atau imunisasi, meski labelnya lengkap tidak mungkin melindungi seseorang dari segala macam penyakit hingga sepanjang hayat".

Belum lagi gangguan kecil karena  sebagian warga masyarakat masih  fobia dengan jarum suntik. Mereka ini jumlahnya tidak banyak, tetapi selalu memantik dan memancing perhatian di tengah vaksinasi massal. Mereka akan berontak hingga meronta-ronta histeris gara-gara tusukan jarum suntik. Itulah kondisi masyarakat kita, tambahan bumbu-bumbu informasi hoak tentang pandemi Covid-19 menjadikan vaksinasi terkesan menyeramkan. 

Orang baru berduyun-duyun ngantri vaksinasi karena ada anggota keluarga atau teman  yang terpapar dan terakhir karena pemerintah memberlakukan persyaratan masuk mall, kantor, restoran, hotel, atau tempat wisata harus mempunyai paspor digital dalam aplikasi PeduliLindungi. Jadi lucu juga orang mau vaksin karena takut tidak dapat masuk tempat-tempat tersebut. 

Di sisi lain, tekanan psikologis warga masyarakat dari waktu-kewaktu semakin berat, beban ekonomi menggunung karena adanya berbagai regulasi PSPB, PPKM, atau dalam arti ekstrim lockdown yang membatasi masyarakat untuk beraktifitas di luar rumah. Hantaman berat terjadi bertubi-tubi, apalagi mereka yang bekerja dengan penghasilan tidak menentu disektor-sektor ekonomi informal benar-benar merasa kepayahan. 

Pemerintah melalui pos APBN dari waktu-kewaktu terlihat mulai kesulitan mengalokasikan anggaran untuk bantuan sosial secara adil dan merata untuk seluruh masyarakat yang memang sangat membutuhkan. Semoga pandemi ini tidak semakin berlarut-larut karena akan membawa bangsa ini jatuh lebih dalam lagi. Masyarakat sudah lelah dengan berbagai kondisi "extra abnormal", dan segala aktifitas dibatasi. 

Semua orang sudah memimpikan kehadiran kembali waktu normal seperti sediakala, sayang sekali mimpi itu sepertinya juga harus dibuang-buang jauh-jauh. Perjuangan masyarakat dunia selama satu setengah tahun  berperang melawan Covid-19 masih jauh dari kata menang. Warga dunia sepertinya harus bersiap dengan kenormalan versi baru (new normal), suka atau tidak suka harus mengambil sikap realistis mau  berdampingan dengan pandemi yang belum diketahui pasti kapan akan enyah dari muka bumi ini. 5u7o

Tidak ada komentar:

Muntilan - Betlehem "van Java", Magnet Dua Kota Beda Budaya

                                                                       Kolese Franciscus Xaverius (SMAPL) Van Lith (Ist) Kota Muntilan mend...